'Sahabat Pena'

'Sahabat Pena'
Assalamu'alaikum Warohamtullahi Wabarakatuh

Jumat, 03 April 2015

VITAMIN A UNTUK ANAK ?? A=AYAH



Vitamin A untuk AnaK

Narasumber: Elly Risman, Psi
(Direktur dan Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati)

BismillaahiRRohmaaniRRohiim...

Tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak kita saat ini membutuhkan Vitamin A (Ayah) yang memiliki peranan sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak


Ayah…
Engkaulah nahkoda, penentu Garis Besar Haluan Keluarga, engkau yang menentukan kemana keluarga kita akan kau bawa

Engkau bukan hanya pencari rizki yang penuh berkat, yang menyediakan makanan lezat dan pakaian yang hangat, serta rumah dan isinya yang tak mudah berkarat, bagi kami kau adalah pembimbing anak & istri yang hebat

Ayah..
Engkau adalah pembuat kebijakan dan peraturan, engkau pula yang menentukan standar keberhasilan.


Ayah..
Engkau senantiasa melakukan pemantauan dan perawatan terhadap kami dan harta benda yang kau titipkan.


Ayah..
Luangkan waktumu lebih banyak lagi ya. Obrolan sederhana yang kau bangun dengan anak kita, membuat ia menjadi anak yang:
Tumbuh menjadi orang dewasa yang suka menghibur
Punya harga diri yang tinggi
Prestasi akademis di atas rata-rata, dan
Lebih pandai bergaul


Ayah lain yang kurang ngobrol dan bercengkrama dengan anak, ternyata menyebabkan anak perempuannya:
Cenderung mudah jatuh cinta dan mencari penerimaan dari laki-laki lain
7-8 kali lebih mungkin memiliki anak diluar pernikahan.
Cenderung suka lelaki yang jauh lebih tua, dan
Cenderung lebih mudah bercerai

Ternyata hal ini berlaku pada anak perempuan dari latar belakang sosial ekonomi apapun.


Sedangkan anak laki-laki yang jarang diajak ngobrol oleh ayahnya,
Lebih beresiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal
Cenderung lebih cepat puber di usia yang lebih muda
Cenderung join a gang, dan
Cenderung menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasa

Ciri anak yang kekurangan vitamin A adalah lebih rentan terhadap peer pressure


Ayah…
Ingat yuk peran kita sebagai orangtua; anak itu AMANAH; kita mendapatkan tugas dari Allah untuk mengasuh dan membesarkan anak dengan baik dan benar. Sebab itu butuh perjuangan (pikir, rasa, jiwa, tenaga, waktu dan biaya).


Ayah…
Yuk pimpin keluarga dengan membuat Visi Pengasuhan bersama Ibu. Visi membuat Ayah dan Ibu lebih mudah mengayuh bahtera keluarga bersama-sama.

Keluarga Nabi Ibrahim (QS. Ibrahim: 35-37) mempunyai misi:
✅Penyelamatan aqidah,
✅Pembiasaan ibadah,
✅Pembentukan akhakul karimah dan
✅Pengajaran lifeskill (entrepreneur).

Sedangkan Visi Keluarga Imran (QS. Ali Imran: 35), yakni menciptakan hamba Allah yang taat.


Ayah…
Mari kita terus perbaiki pola pengasuhan selama ini. Anak kita perlu mendapat validasi dari kita agar ia tidak perlu mencari dari orang lain. Ia membutuhkan 3P:
Penerimaan,
Penghargaan, dan
Pujian.


Ayah..
Mari kita bedakan pola pengasuhan anak laki-laki dan perempuan kita, sebab:
Otak mereka berbeda
Tugas dan tanggung jawab mereka kelak dewasa juga berbeda
Sehingga, tujuan pengasuhannya pun berbeda. Anak laki-laki kita kelak mengemban tanggungjawab yang lebih besar daripada anak perempuan kita. Selain menjadi hamba yang bertakwa dan berperan di masyarakat, anak laki-laki kita kelak akan menadi pendidik dan pengayom keluarga.


Ayah…
Penting sekali vitamin A bagi anak; bukan hanya meluangkan ‘waktu lebih’, tapi kuantitas dan kualitas berjalan seimbang. Tidak hanya terlibat secara fisik, tapi melakukan authoritative parenting (kasih sayang tinggi – tuntutan tinggi, yakni orangtua memberikan dorongan, dukungan, perhatian dan menawarkan perhatian tanpa kekerasan).


Ayah…
Biasakan tanya perasaan anak kita setiap hari ya, itu berarti kau sedang membangun kekuatan emosi dan kedekatan batin dengan mereka. Ingat PERASAAN ya Yah…

Biarkan dirimu menjadi tempat curhat anak-anakmu, tempat mereka meluapkan perasaannya. Kalian bisa ngobrol tentang apaaaa saja, tentang hal-hal yang pribadi, tentang hal yang menyenangkan, tentang kesulitan yang dialami, tentang hal yang yang dianggap tabu dan menjadi tantangan anak zaman sekarang.


Ayah…
Berikan fondasi bagi anak-anakmu agar kelak mereka kuat dan mampu berdiri sendiri dengan arif dan disayangi banyak orang.


Ayah..
peranmu tak tergantikan untuk membantu Ibu membesarkan anak yang sehat dan bahagia, yang nantinya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan kestabilan Negara.


Pesan Rasul tercinta, manusia yang baik adalah mereka yang paling baik kepada KELUARGAnya.

Semoga bermanfaat...

Minggu, 15 Maret 2015

ღWanita sebagai Al Ummu Madrasah Al Ulaღ



BismillaahiRRohmaaniRRohiim

Akhwat fillah yang dirahmati Allah,Calon Ibu Calon pencetak Jundi-jundi Islam yang berakhlaqul karimah,kita sebagai wanita adalah madrasah pertama untuk anak-anak kita kelak.

"Al -Ummu madrasah Al-ula (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya) bila engkau persiapkan dengan baik maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik dan kuat"

Wahai saudariku, Persiapkanlah diri anda untuk menjadi seorang Ibu yang shalihah sebagai Madrasah bagi anak-anakmu kelak. Wanita adalah setengah dari bagian masyarakat, dan ia melahirkan generasi manusia, serta ialah pondasi tegaknya keluarga.

Bila anda ingin memiliki anak-anak yang salih dan salihah, maka persiapkanlah diri anda menjadi wanita bertakwa, tangguh, kuat lahir bathin, tegar, mandiri, sabar dan cerdas sebelum anak anda lahir bahkan sebelum menikah. Melahirkan generasi shalih dimulai dari kedua orang tua yang juga salih dan salihah. Yang mempunyai kesadaran untuk memiliki generasi yang baik lahir maupun bathin. Mempunyai kesadaran bahwa anak-anak adalah Amanah dari Allah Ta'ala, yang harus dijaga dengan baik.

Ibu berperan besar dalam pembentukan watak, karakter dan kepribadian anak-anaknya. Ia adalah sekolah pertama dan utama sebelum si kecil mengenyam pendidikan di sekolah manapun. Namun tidak sedikit ibu yang beranggapan, ketika sibuah hati sudah masuk sekolah maka sekolahlah yang bertanggung jawab atas pendidikan si buah hati. Padahal peran ibu tidak bisa tergantikan oleh siapapun. Ibu memiliki peran lebih dari sekolah yakni membangun kecerdasan emosional anak bahkan membangun kecerdasan spiritual anak.


Ibu adalah "gudang ilmu", "pusat peradaban" dan "wadah" yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia. Peran yang sangat penting ini, meuntut seorang ibu untuk membekali dirinya dengan ilmu yang memadai. maka seorang ibu harus terus bergerak meningkatkan kualitas dirinya. Karena, untuk mencetak generasi yang berkualitas, diperlukan pendidik yang berkualitas pula. Hal itu berarti ibu tak boleh berenti belajar.

Wahai saudariku, muslimah. Teruslah mencari ilmu, bekali dirimu dengan ilmu. Ilmu yang dapat meluruskan akidah, mensalihkan ibadah, membaguskan akhlaq, meluaskan tsaqofah, membuat mandiri, tidak bergatung pada orang lain sekaligus bermanfaat buat orang lain.

Teladanilah wanita Anshar yang tidak malu bertanya tentang masalah agama. Teladanilah para shahabiyah yang bahkan meminta kepada Rasulullah untuk diberikan kesempatan dihari tertentu khusus untuk mengajari mereka. Sehingga, akan bermunculan kembali Aisyah-Aisyah yang mempunyai pemahaman yang luas dan mendalam tentang agamanya


Duhai saudariku, muslimah, didiklah putra-putrimu agar mengenal Allah dan taat pada-Nya agar gemar membaca dan menghafal kalam-Nya. Ajarkan mereka mencintai Rasulullah dan meneladani beliau. Bekali dengan akhlaq imani, mencintai sesama, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

Dan semuanya dimulai dari sekarang...

Semoga kita calon Ibu bisa mencetak Jundi jundi Allah yang sholeh/Sholehah.Aamiin.

Rabu, 11 Maret 2015

ღSifat-Sifat Wanita Sholehahღ



BismillaahiRRohmaaniRRohiim...

"Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka." (An-Nisa: 34)
Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita shalihah adalah taat kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma'ruf lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya.
"Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah berfirman: "Wanita shalihah adalah yang taat," yakni taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada." Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya." (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.177)

Berikut Sifat-sifat wanita sholehah :

Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala), tunduk kepada perintah Allah ta'ala dan perintah Rasul-Nya.

Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala

Qanitat: wanita-wanita yang taat

Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.

'Abidat: wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma).

Shoimat: wanita-wanita yang berpuasa. (Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, 18/126-127, Tafsir Ibnu Katsir, 8/132)

Semoga bermanfaat dan dapat kita aplikasikan...



Jumat, 06 Maret 2015

ღRomantisme Ala Rasulullah,ustadz Hatta Syamsudin Lcღ



BismillaahiRRohmaaniRRohiim...

Assalamu'alaikum Sahabat Bloger,
Kali ini ana ingin mengulas sedikit buku yang tak kalah menarik dari karya Ustad Salim,"Malam Janganlah Cepat Berlalu,Mentari Perlahanlah Sejenak" karya Ustad Hatta Syamsudin Lc,
Sempat ana malu kepada seorang sahabat,mereka berfatwa bahwa saya sangat tendensius dan ingin sekali menikah,karna buku-buku bacaan saya mayoritas tentang Pernikahan dan Rumah Tangga.
menurut ana itu hal yang manusiawi,bukanlah Rasul telah bersabda "Hai para pemuda, barangsiapa diantara kamu yang sudah mampu menikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekang syahwat”.
Dari sini saya ingin meyegerakan menikah.

Pacaran No,Nikah Yess..

Selamat menikmati..

Di kawasan Alun-alun kota Jember, terlihat sepasang muda-mudi yang belum menikah, bergandengan tangan tak peduli oleh tatapan mata penuh tanya dari orang-orang di sekitarnya. Di belakang mereka, sepasang suami istri justru hanya berjalan bersisian tanpa ada kontak fisik yang menunjukkan bahwa mereka sudah menikah. Mengapa pasangan yang statusnya masih pacaran itu bisa lebih romantis daripada pasangan yang sudah menikah?


Kenyataannya, banyak yang begitu. Terutama dari pihak suami. Setelah menikah, banyak suami yang enggan untuk menunjukkan romantisme kepada istrinya. Bukankah seharusnya justru lebih romantis dibandingkan dengan sebelum menikah? Sedangkan para istri tak kalah abainya, dengan alasan pekerjaan rumah tangga dan anak-anak yang begitu menguras tenaga, istri-istri berkurang kepedulian kepada suaminya.

“Ah, kita kan sudah menikah, buat apa romantis-romantisan lagi?” begitu dalih pasangan suami istri yang menolak paham romantis. Rumah tangga dakwah, apalagi. Terlalu banyaknya agenda dakwah membuat waktu untuk keluarga semakin berkurang. Romantisme dianggap sebagai pekerjaan sia-sia yang tak ada nilai ibadahnya. Bahkan dapat melalaikan kita dari beribadah kepada Allah Swt. Benarkah begitu?

Mestinya, setelah menikah, suami istri justru lebih bertambah keromantisannya, karena pernikahan harus terus dipupuk agar tetap berjalan di jalur yang aman. Tak heran, banyak pasangan suami istri yang mengalami kejenuhan berumahtangga setelah bertahun-tahun bersama, bahkan tak jarang pasangan suami istri yang bercerai hanya untuk mendapatkan getar-getar cinta seperti waktu masih pengantin baru. Mereka berpikir getar-getar cinta itu bisa didapatkan dari pasangan yang baru. Istilahnya, kalau dengan istri yang lama itu sudah tidak “nyetrum” lagi.

Dilatarbelakangi oleh fenomena berkurangnya keromantisan suami istri itulah, penulis yang juga seorang Ustadz ini, menuliskan sebuah buku berjudul “Malam, Janganlah Cepat Berlalu. Mentari, Perlahanlah Sejenak.” Dari judulnya saja sudah terasa aura romantisnya. Penulis ingin mengkampanyekan romantisme suami istri dengan mengangkat empat puluh inspirasi romantis dari rumah tangga Nabi Muhammad Saw. Rasulullah adalah suami yang paling romantis. Hal itu diakui oleh istri-istrinya.

“Bagi para ummahatul mukminin, beliau bukan sekadar suami yang biasa. Beliau adalah suami yang romantis dengan segenap arti yang bisa diwakili oleh kata romantis.” (halaman 18)

Keempat puluh inspirasi romantis itu dapat dirangkum ke dalam beberapa poin berikut ini;

Pertama, romantis itu dimulai sejak sebelum menikah dan tak memiliki waktu berakhir.
Bagaimana bisa menerapkan romantisme bila menikah saja belum? Terlebih lagi bagi pasangan yang menikah tanpa pacaran. Buku ini menjelaskan beberapa cara memunculkan romantisme menjelang akad nikah. Sesuatu yang dijalani oleh hati, pikiran, dan niat yang bersih, bahwa pernikahan yang akan dijalani semata-mata hanya untuk beribadah kepada-Nya. Setelah menikah dan hingga bertahun-tahun lamanya, romantisme harus terus dipertahankan sebagai pupuk pernikahan agar bunganya senantiasa mekar.

Kedua, romantis itu tidak perlu mahal.
Kebanyakan dari kita berpikir bahwa romantis itu memerlukan biaya. Makan di kapal pesiar, membelikan hadiah-hadiah mahal, bulan madu ke luar negeri, dan sebagainya. Buku ini memberikan solusi romantisme tanpa biaya mahal tetapi berkesan. Sebagai contohnya adalah minum dari gelas yang sama secara bergantian, sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW bersama dengan Aisyah Ra.

“Segelas berdua, insya Allah membawa berkah. Tidak harus hilang semua dahaga.” (halaman 56)

Ketiga, romantis itu dalam rangka beribadah kepada Allah Swt.
Tujuan melakukan romantisme itu sudah tentu untuk beribadah kepada Allah Swt, jadi jangan sampai sikap-sikap romantis terhadap pasangan justru menghalangi kita untuk beribadah kepada Allah Swt. Banyak ikhwah yang berguguran di jalan dakwah, justru setelah menikah. Dengan alasan mendahulukan kepentingan keluarga, mereka berkurang semangatnya dalam berdakwah. Yang tadinya rutin ikut taklim, menjadi bolong-bolong. Yang tadinya tilawah sehari satu juz, menjadi beberapa hari sekali. Yang tadinya rutin salat malam, menjadi tidak salat malam sama sekali. Sungguh amat disayangkan bila sikap romantisme yang ingin kita tunjukkan kepada pasangan, justru menjauhkan kita dari Allah Swt.

Keempat, romantis itu memang berhubungan dengan penampilan fisik.
Seseorang pernah bertanya kepada saya, apakah hanya lelaki tampan dan wanita cantik saja yang ditakdirkan untuk bisa bersikap romantis? Bagaimana dengan orang-orang yang tak memiliki paras rupawan? Kuncinya, bukanlah paras rupawan. Pada dasarnya memang romantisme berkaitan dengan penampilan fisik, karena daya tarik fisik itulah yang dapat memancing gairah. Untuk itulah, pasangan suami istri disunahkan berhias untuk pasangannya masing-masing. Tuntutan berhias sering kali ditujukan kepada istri, padahal suami pun harus berhias untuk istri.

“Berhias bukanlah monopoli kaum perempuan, tetapi kaum lelaki juga diseyogyakan untuk berhias. Hal ini disebabkan perempuan juga mempunyai fitrah menyukai memandang laki-laki yang tampil menarik.” (halaman 164)

Sebelum rumah tangga Anda karam karena berkurangnya romantisme terhadap pasangan, bacalah buku ini. Nikmati penjelasan-penjelasan penulis yang disesuaiakan dengan kondisi terkini, serta ringan untuk dicerna. Dan akhirnya, saya harus memberitahu. Untuk itulah, saya membeli dan membaca buku ini.

“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya. Dan aku adalah yang terbaik pada istri dari kamu sekalian.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibba)

Selasa, 03 Maret 2015

ღENAM TIPE ISTRI YANG DIIDAMKAN PARA SUAMIღ


Riedha Bloger

Ukhti,Ini dia Tipe Istri Idaman Suami.
Kita simak yuk...

BismillaahiRRohmaaniRRohiim....

Wanita berparas cantik dan memiliki tubuh indah tak selalu menjadi tipe istri idaman para pria. Banyak faktor lain mulai dari sifat hingga kebiasaan sehari-hari yang membuat pria tertarik. Seperti yang dikutip dari ezinearticle, berikut ini enam tipe istri yang menjadi idaman suami.

1. Penurut
Menurut survei yang dilakukan oleh ezinearticle, kebanyakan suami ingin memiliki istri yang selalu patuh. Mereka ingin agar semua pendapatnya didengar, kecuali jika perkataanya menyuruh istri untuk berlaku buruk. Tetapi dalam kasus tersebut, pria ingin agar istri mau menolak perkataan itu dengan baik dan penjelasan yang masuk akal.

2. Mau Berterimakasih dan Sering Memuji
Menurut para suami, mendapatkan ucapan 'terima kasih' serta pujian atas apa yang telah dilakukannya untuk Anda, dapat membuat dirinya merasa bahagia serta dihargai. Ada kalanya suami mengorbankan waktu, tenaga
dan uang untuk membuat istrinya merasa senang atau paling tidak, merasa aman. Di saat itulah, Anda 'wajib' menunjukkan rasa terimakasih dan berikan perhargaan padanya.

3. Bisa Berperan Sebagai Sahabat
Selain sebagai pendamping hidup, suami ingin istrinya juga memiliki peran sebagai teman. Dalam perannya itu, suami ingin agar istri menjadi tempat berbagi kegembiraan-kesedihan, memberikan saran, dan memiliki minat yang sama. Pada kenyataannya, tidak banyak istri yang menyadari hal ini. Saat hal itu terjadi, bukannya tak mungkin jika suami jadi lebih intim ketika bersama teman-temannya dibanding ketika dengan Anda.

4. Membuatnya Menjadi Seseorang yang Lebih Baik
Di balik pria yang sukses ada wanita yang hebat. Inilah yang diinginkan oleh banyak pria, wanita yang selalu mendukung dan mendorongnya untuk menjadi individu yang lebih baik. Para suami ingin agar sang istri selalu ada di 'belakangnya' saat sedang berada dalam masa sulit dan mendorongnya untuk mampu mengatasi hal tersebut.

5. Pandai Mengatur Tugas Rumah Tangga
Para suami juga mengatakan bahwa memiliki istri yang mahir merawat anak, akan membuat diri mereka merasa aman saat berada di luar rumah. Selain itu, para suami juga menginginkan istri yang pandai mengatur tugas rumah tangga, mulai dari masalah kebersihan hingga makanan.

6. Pintar Mengatur Uang
Menurut suami, hal tersebut sangat membantu mereka dalam mengelola anggaran keuangan secara efektif. Selain itu, pria juga berpikir bahwa wanita memiliki kemampuan mengatur keuangan melebihi para pria.

Semoga Bermanfaat Bagi Calon Isti,Aamiin

ღAkhi,Biarkan Aku Mencintaimu Karena Allahღ



Jika Aku mencintaimu karena pesona ketampananmu. Bagaimana jika ketampanan itu pudar? Akankah cinta itu ikut pudar?

Jika Aku mencintaimu karena harta yang ada pada dirimu. Sesungguhnya harta juga titipan, jika tiba-tiba hilang mungkinkah cinta masih bertahan?

Jika Aku mencintaimu karena kesholehanmu. Bila seiring perjalanan waktu kutemui sedikit cacat pada akhlaqmu, berkurangkah cintaku padamu?

Jika Aku mencintaimu karena luasnya ilmu pengetahuanmu. Namun bila ilmu yang kau miliki juga ku kuasai, akankah cinta hanya sebagai pelengkap saja?

Sebanyak apapun alasan yang ada pada dirimu, sehingga membuat dirimu sempurna atau terlihat biasa dalam pandanganku biarkan aku mencintaimu karena Allah. Dimana rasa cinta itu hadir bukan karena kesempurnaanmu.

Sesungguhnya kesempurnaanmu mampu ku lihat di saat aku mau belajar mencintaimu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu.

Oleh karena itu biarkan aku mencintaimu karena Allah..

Dimana ketika rasa cintamu terhadap Allah berkurang,aku akan berusaha untuk menghadirkan rasa cinta itu lagi demi cintaku pada Allah...

Biarkan aku mencintaimu karena Allah..

Di saat rasa cinta membunyikan senandung indah aku akan memuliakanmu sepenuh hati dengan menjaga kehormatanmu dan tidak akan mendurhakai Allah...

Namun di saat nada cinta mengalun sumbang, aku akan berusaha untuk tidak mendzalimi dirimu. Akan tetap kuukir namamu di hati dengan menghargai dan menghormatimu demi mengharap keridhaan Allah...

Untukmu duhai cinta...

Maafkan aku tak mampu terlalu banyak menumbuhkan harapan terhadapmu sebelum engkau halal bagiku...

Untukmu yang selalu ku tunggu ijab qabulmu dalam lembar sajadah cintaku...

✿WANITA SHOLEHAH✿Mutiara Muslimah Sejati♥


Selasa, 17 Februari 2015

ღTrilogi CINTAღ (USTADZ SALIM A.FILLAH & USTADZ FELIX A.SIAUW)






BismillaahiRRohmaaniRRohiim....

"JALAN CINTA PARA PEJUANG"
Karya : Ustadz Salim A.Fillah

Sebuah note teruntuk yang sedang jatuh cinta..atau yang sedang dalam penantian “Miss Right”.
Artikel ini diambil dari blognya Ust. Salim A. Fillah n merupakan cuplikan buku beliau
“Jalan Cinta Para Pejuang”..semoga bermanfaat.. ^_^

Mencintai Sejantan ‘Ali

Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
-M. Anis Matta-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..

Cuplikan Buku "Jalan Cinta Para Pejuang" by Salim A Fillah.


"UDAH PUTUSIN AJA"
Karya : Ustadz Felix A.Siauw

Sebuah note teruntuk sahabat yang hobi Couple bahasa keren dari pacaran...
“Udah putusin aja”..semoga bermanfaat.. ^_^

Islam tidak pernah mengharamkan cinta. Islam mengarahkan cinta agar ia berjalan pada koridornya. Bila bicara cinta di antara lawan jenis, satu-satunya jalan adalah dengan pernikahan, yang dengannya cinta menjadi halal dan penuh keberkahan. Sebaliknya, Islam melarang keras segala jenis interaksi cinta yang tiada halal. Bukan karena apa pun, tapi karena Islam adalah agama yang memuliakan manusia dan mencegah kerusakan-kerusakan yang akan terjadi pada diri manusia itu sendiri.

Sialnya, kaum Muslim kini hidup dalam kungkungan masyarakat yang sebagian besar salah kaprah dalam cinta. Karenanya tidak dikenal lagi kesakralan pernikahan dan kesucian diri, apalagi kehormatan dan kemuliaan jiwa. Semua sudah terganti dengan pergaulan bebas, ada yang menyebutnya pacaran, teman tapi mesra, dibalut dalam alasan kakak-adik, teman dekat, ataupun yang lainnya.

#UdahPutusinAja, sebab apa pun namanya, kelak akan bersaksi seluruh bagian tubuh di depan Allah. Karenanya, sedari dini mari mendidik cinta, mengajarinya agar ia bersemi dalam taat, bukan direndahkan oleh maksiat. Ajarkan cinta agar ia benar hingga membuat pemiliknya terhormat, bukan nista yang ditanggung karena terbuai cinta yang terlaknat.
By : Ustadz Felix Siauw

yg masih pacaran #UdahPutusinAja

Part 1
1. datangilah ayahnya bukan putrinya | bila benar engkau lelaki, jangan berani maksiat lalu lari #UdahPutusinAja

2. jangan inginkan hubungan tapi enggan ikatan | bila benar engkau lelaki, ucap sayang itu setelah nikahi

3. meminang wanita dan engkau masih harus yakinkan keluargamu? itu dusta | bila benar engkau lelaki, siapkan baru katakan

4. jangan mengumbar kata-kata bercabang haram sebelum waktunya | bila benar engkau lelaki, kata-katamu adalah nyawamu

5. wanita itu lemah hatinya terhadap manis kata | bila benar engkau lelaki, ringankan kata adalah perkara utama

6. katakan sayang lakukan hal terlarang, ucap cinta yg maksiat dipinta | bila benar engkau lelaki, harusnya engkau malu

7. katamu kau ingin kebaikan untuknya, yang kau lakukan mengambil masa depannya | dusta, itulah satu-satunya yang kau ajarkan

8. kau katakan kau serius, bagiku itu hanya tipudaya | serius itu menikahi, dan tiada keseriusan selain itu

9. memulai pinangan yang belum kau siapkan untuk akhiri adalah bohong | ibarat tak miliki uang namun mau memborong

10. katamu pacaran adalah penjajakan sebelum menikah | yang ada engkau mencoba-coba karena takutkan nikah

11. masa depan Muslimah yang kau jadikan mainan? | bila yang taat sejak awal saja mungkinkan sulit, apalagi yang dari awal maksiat?

12. tak perlu risau ambil keputusan, banyak Muslimah shalihah | dunia takkan pernah kehabisan mereka, yakinlah #UdahPutusinAja

13. "dia nggak mau aku putusin" | sejak kapan taat perlu izin manusia? sudahi maksiat sudah Allah perkenankan, itu cukup #UdahPutusinAja

14. "semenjak bersamanya aku rajin shalat, itu kan positif?" | #UdahPutusinAja dan berlatihlah bahwa shalat dan taatmu karena Allah semata

15. "aku pacaran positif kok" | bila ada pacaran yang positif, tentu ada pula neraka positif #UdahPutusinAja

16. "cuma pegangan tangan kok" | begitulah mengawali zina, semudah "cuma pegangan tangan" #UdahPutusinAja

17. "pacaran itu tergantung orangnya" | semua wanita yang hilang pusakanya, awalnya berkata begitu #UdahPutusinAja

18. "jangan suudzann, pacaran belum tentu begitu" | bukan berprasangka, tapi melihat yg buruk, mungkin yang tak terlihat lebih parah?

19. "mas, sy siap nikah, TAPI blm cukup duit, ortu blm setuju, kuliah blm lulus, blm kerja blm ada yg mau, blm yakin?" | *terdiam sy -_-

20. bila memang belum siap, #UdahPutusinAja | itulah langkah ksatria yang bisa kau ambil | bila engkau memang lelaki

Part 2
1. pantaskah berbicara tentang sayang, berkata tentang cinta | sementara disaat yang sama amalnya selalu ajak maksiat? #UdahPutusinAja

2. pantaskah rencanakan masa depan, rancang apa yang dihadapan | sementara saat sekarang saja tak berani bilang nikah? #UdahPutusinAja

3. yg pacaran pantaskah panggil memanggil dengan sebutan "ayah" - "bunda" | sementara lo masih menadahkan tangan untuk biaya? #UdahPutusinAja

4. pantaskah lo katakan diri lo menjaganya | padahal justru cumbu rayu haram lo merusak akal dan fisiknya? #UdahPutusinAja

5. lo kata itu ungkapan sayang, kata lo sayang perintah Allah | alasan lo, perintah jelas Allah jgn berkhalwat lo langgar #UdahPutusinAja

6. lo berharap hari esok yg baik, sementara hari ini yg membentuk hari esok lo penuhi dengan maksiat? | #UdahPutusinAja

7. lo kata putuskan dia sulit | egois, pikirkan hanya diri sendiri, tak lo pikirkan dia saat harus dihisab krn maksiat? #UdahPutusinAja

8. #UdahPutusinAja , berhentilah bermaksiat | dengannya Allah akan turunkan cahaya kebaikan yg mengisi relung yang selama ini gelap gulita

9. #UdahPutusinAja , satu saat nanti, yakinlah engkau akan bersyukur telah mengambil keputusan yang tepat dengan taatmu

10. #UdahPutusinAja , mungkin selama ini Allah menghijabmu dari mahligai pernikahan yang lo dambakan karena maksiat lo tetap jalan

11. #UdahPutusinAja , hati lo akan lebih ringan saat hadapkan wajah lo pada kiblat saat shalat | tiada kebohongan dan nifaq yg lo pikul

12. #UdahPutusinAja , engkau takkan mati tanpanya, karena bukan karenanya engkau hidup | pahami seutuhnya hidup-matimu hanya Allah!

13. #UdahPutusinAja , bila tidak engkau segerakan, setiap lisan padanya adl dosa, setiap sentuhan adl maksiat, setiap pandangan akan dihisab

14. #UdahPutusinAja , beri dirimu waktu untuk ketahui bukan hanya apa yg engkau inginkan, tapi apa yang Allah kehendaki bagimu

15. #UdahPutusinAja , dengannya kau mungkin akan merasakan apa beda cinta ikhlas sejati dengan cinta nafsu yang hanya perlu pelampiasan

16. #UdahPutusinAja , hormati badanmu sendiri, muliakan dirimu sendiri, sempurnakan keimananmu | agar pantas bagimu atas surga yg kau pinta

"NIKMATNYA PACARAN SETELAH PERNIKAHAN"
Karya : Ustadz Salim A.Fillah

Pacaran itu memang nikmat.Tapi..bedakan dulu ukhti,akhi. Pacaran karena dilandasi nafsu, tidak halal..atau pacarannya karena Allah? “Eh? Maksudnya gimana ya?” Nah ini yang perlu dikupas,pacaran yang tidak halal itu pasti dilarang oleh Allah, “Pacaran ya pasti dilarang oleh Allah, lah.
Mana ada yang disukai oleh Allah?” Ehem, ada lho! Yaitu..pacaran setelah pernikahan, bukannya dilarang, tapi malah berpahala...Gak percaya ?? makanya Nikah dulu,baru pacaran...

Nah ana disini akan share sedikit tentang isi buku dari salah satu buku best seller-nya Ust. Salim A. Fillah terbitan Pro-U Media (2003), yakni Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan.

Nikmatnya pacaran setelah pernikahan. Betapa ia ingin mengajak menjaga kesucian bagi kita yang sedang menanti keindahan. Betapa ingin ia tegaskan makna masa muda yang rawan. Betapa ingin ia ajak Anda melongok janji-janji Ar Rahman, mendapatinya begitu nyata dan pasti tertunaikan. Ya Allah Engkau Mahabenar, janji-Mu benar, Rasul-Mu benar, kitab-Mu benar, surga-Mu benar, neraka-Mu benar… agar kami menjadi saksi atas manusia,dan Rasul menjadi saksi atas kami. Itulah kalimat yang sengaja saya nukil dari buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan.MasyaAllah,alunan jemari diatas keyboard rasanya jadi kaku,jantung deg-degan ketika saya ingin membahas buku ini.

Alangkah seringnya mentergesai kenikmatan tanpa ikatan, membuat detik-detik di depan terasa hambar. Belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya. Saat berbuka dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Inilah puasa panjang syahwatku.

Kekuatan ada pada menahan, dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan. Coba saja kalau Allah yang menghalalkan setetes cicipan surga kan menjadi shadaqah berpahala.

Melalui buku ini, Ustadz Salim A. Fillah coba menjelaskan lebih dalam mengenai hakikat dari cinta, dan bagaimana seharusnya cinta itu diolah dibesarkan sesuai dengan porsi nya.

Beliau memaparkan bahwa cintanya kita pada apa yang ada didunia ini, baik keluarga, orang yang dicinta, harta, kedudukan, itu tidaklah boleh melebihi cintanya kita pada Sang Pencipta, Allah SWT.

Bukankah Allah lebih dekat daripada urat leher kita ?! Maka ketika hati ini mulai melenceng dari garis cinta kita pada Allah, maka bersegeralah pegang urat leher kita dan rasakan keberadaan Allah disana. Bukan kah ia ada disana saat kita senang dan duka?

Ketahuilah bahwa Allah lebih pencemburu ketimbang kita manusia ! Karenanya jika kita berbuat sesuatu bukan karena-Nya melainkan karena makhluk yang sebenarnya adalah ciptaan-Nya, maka sudah barang tentu Allah sangat murka pada kita.

"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Padahal, orang-orang yang beriman amat sangat cintanya pada Allah.."
(QS. Al-Baqarah : 165)


Kaitan nya dengan judul buku ini, Saya dan kita semua harus lah sadar bahwa jodoh adalah ketentuan Allah. Ada aturan dan tatakrama yang sudah digariskan dan dicontohkan oleh Rasulullah mengenai hal ini.

Bagi seorang mukmin alangkah baiknya bagi kita untuk belajar dari ahli puasa jika belum sampai waktunya. Dan ketahuilah ada dua kenikmatan dan kebahagiaan bagi seorang yang berpuasa, yaitu saat ia berbuka dan pada saat Allah menyapa lembut memberikan pahala.

Inilah puasa panjang syahwat seorang mukmin, kekuatan ada pada menahan. Dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan.


Pesan Ust. Salim A. Fillah :

Coba saja,
Kalau Allah yang menghalalkan
Setitis cicipan surga
Kan menjadi shadaqah berpahala

Hei, karena saya pun masih belajar..mari ingat ingat pesan cinta dari Allah ini :

"Wanita-wanita yang kotor adalah untuk lelaki yang kotor dan lelaki yang kotor untuk perempuan yang kotor.


Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik"
(QS. An-Nur : 26)


"Wanita dinikahi karena empat hal; sebab hartanya, kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama agar barakah kedua tanganmu"
(HR. Muslim)


Jadi, marilah kita perbaiki diri kita sendiri, kemudian menjadi yang terbaik sebagai insan, maka kita insyaAllah akan dipantaskan oleh Allah pada pasangan yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Aamiin


Alhamdulillah,akhirnya kelar juga saya memberi sedikit cuplikan dan resensi dari buku-buku beliau.
Hunting bukunya yuk,Murah kok.
tidak kurang dari apa yang bisa saya harapkan dari karya Salim A. Fillah dan Ustad Felix A.siauw padat berisi, segar menyentak, dan manis menggugah. Tak banyak saya kira, penulis yang mampu meramu sumber-sumber berbahasa langitan, menyambung dan merangkainya menjadi suatu karya yang tidak hanya renyah dibaca, tapi juga nyaman dicerna oleh pikiran awam seperti ana. Pemilihan diksi dan penggunaan kata bahasa juga pada buku ini lebih kaya dan sastra bahasanya juga mudah dipahami oelh kalangan muda meski tampak tidak selalu membaku, tetapi tetap tertata untuk dibaca.

Semoga bisa mengikuti Jejak beliau...

Riedha bersama Ustadz Salim A.Fillah & Ustadz Felix A.Siauw